30 Desember 2010

Allah Bersama Orang yang Sabar!

Sabar adalah satu sifat yang mulia. Dengan sifat sabar, kita bisa merubah lawan menjadi teman. Orang-orang yang sabar mempunyai keuntungan yang besar:
„Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.“ [Fushilat:34-35]
Allah menjanjikan surga kepada orang-orang yang sabar:
„Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.“ [Ali Imran:133-134]
Ketika Abu Bakar tersinggung pada kerabatnya yang turut menyiarkan fitnah terhadap anaknya ‚Aisyah dan ingin menghentikan bantuan, turun ayat Allah yang melarang itu:
„Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“ [An Nuur:122]
Memaafkan orang bisa mendapat pahala dan lebih utama:
„Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.“ [Asy Syuura:40]
„Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.“ [Asy Syuura:43]
„Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Kuasa.“ [An Nisaa’:149]
Kadang dalam rangka taushiyah/dakwah orang sering berkata-kata buruk terhadap orang yang tidak sepaham. Padahal dalam surat Al Ashr kita diperintahkan untuk melakukannya dengan cara yang baik dan dengan kesabaran:
„kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.“ [Al Ashr:3]
Allah tidak suka dengan orang yang suka mencaci orang lain:
„Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ [An Nisaa’:148]
Allah cinta dan bersama dengan orang-orang yang sabar:
„Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.“ [Al Anfaal:46]
Allah menyuruh kita sabar dan melarang kita marah meski kita dalam keadaan benar. Lihat bagaimana Allah mengecam Nabi Yunus yang marah kepada ummatnya yang jelas-jelas kafir:
„Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).“ [Al Qalam:48]
Menjadi orang yang sabar memang sulit. Sangat sulit. Mudah-mudahan Allah SWT memberi kekuatan bagi kita hingga bisa jadi orang yang sabar dan dekat denganNya.
Di bawah adalah doa agar diberi Allah kesabaran dan wafat dengan akhir yang baik (Husnul Khatimah) di mana kita bukan hanya dicintai Allah, tapi juga manusia:
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri kepada-Mu” [Al A'raaf 126]. Allahu A'lam..
Wassalamu’alaikum wr wb..

26 Desember 2010

Jepang, di Sini Cinta Bersemi

Terbata-bata terdengar suara dari wanita setengah baya yang duduk di hadapan. Tangannya berusaha mengeja huruf demi huruf yang tercetak dalam buku Iqra "Belajar Cepat Membaca Al-Qur'an". Sesekali tampak berusaha membetulkanikatan penutup kepala yang menutupi sebagian rambut pirangnya. Kemudian akan terhenti sejenak ketika sampai pada huruf-huruf yang dianggapnya sulit dilafalkan.

"It's alright? Did my spelling was true?" Sesekali keluar pertanyaan untuk memastikan betul tidaknya bacaan.

Mrs. A, begitu panggilannya. Salah seorang isteri konsulat Bosnia yang baru beberapa minggu saya kenal. Meski lahir dan besar sebagai muslim, namun baru tergerak hatinya untuk belajar membaca Al-Qur'an di usianya yang sudah senja.

Jepang, di negara inilah keinginan itu muncul. Di saat kehidupan terasa bebas, apa saja bisa didapat, kebosanan mulai terasa. Ada suatu ruang kosong yang tidak bisa ditimbun dengan keindahan dunia yaitu kekosongan jiwa. Di mana setiap perbuatan yang dilakukan terasa hampa dan melelahkan. Rasa gelisah, putus asa, kecewa kerap timbul.

Sandaran berupa kejayaan, ketenaran dan kekayaan, tidak dapat menopang pijakan saat diri goyah.

Sampai suatu saat Mrs. A menyadari bahwa Islamlah obat dari kekosongan jiwa. Di mana Islam mengajarkan sikap optimis. Bahwa hidup itu memiliki makna. Allah akan memberi balasan kepada siapapun yang berbuat baik, meskipun kebaikan itu hanya sebesar biji dzarrah. Kesadarannya menghantarkan diri khilaf untuk kembali menjadi hamba yang berserah diri.

***
Dua minggu ke belakang, saya mendapat kabar gembira dari salah seorang sahabat melalui telpon. "Teteh, saya sekarang sudah dijilbab! Do'akan biar mantap yah." Ummu S, nama pemilik suara tersebut. Kami berkenalan setahun yang lalu dalam sebuah pengajian. Usianya lebih muda beberapa tahun dari saya.


Menikah dengan pria Jepang adalah pilihannya. Dengan harapan sang pria yang hidup berkecukupan akan membawanya ke gerbang kebahagiaan. Namun sayang, ternyata kebahagiaan yang diimpikannya hanyalah semu.

Kedudukannya sebagai isteri, sering didentikan dengan 'pembantu' bagi suami. Perlakuan kasar secara fisik ataupun melalui ucapan yang melukai hati seringkali terlontar dari laki-laki yang seharusnya menjadi qawwam bagi dirinya. Perintah-perintah otoriter adalah peraturan mutlak yang tidak boleh dilanggar. Ia terkurung dalam istana impiannya.

Lemahnya iman dan tidak kuatnya dasar pijakan ruhiyah, menyebabkan ia terombang ambing dalam kehampaan. Jiwanya terasa kosong. Semua yang dilakukannya terasa tak berarti. Rasa percaya diri hilang. Tak ada lagi semangat untuk menjalani hidup. Hari-hari dilaluinya melalui sebuah kebahagian bernama pachinko. Kebahagiaan semu yang justru makin menyeretnya ke dalam keterpurukan.

Sampai suatu hari, Allah membimbingnya untuk datang ke sebuah pengajian keliling di daerahnya. Kehangatan suasana Islami, persaudaraan atas cinta kasih karena Allah dalam perkumpulan tersebut begitu membekas di hati Ummu S. Disana ia serasa menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Tersadar bahwa Islamlah obat mujarab yang dapat mengatasi semua kemelut hatinya.

Dengan mendekatkan diri kepada Allah, akan didapat suatu tenaga penuh untuk mengusir penderitaan hati. Karena Allah telah menjanjikan, bersama kesulitan akan ada kemudahan.


***

Antara Mrs. A dan Ummu S memang tidak ada kaitannya. Berbeda umur, situasi dan kondisi. Namun sepertinya saya perlu menggaris bawahi negara tempat tinggal kedua sahabat tersebut, yaitu Jepang. Sebuah negara sekuler yang sangat tak peduli akan keberadaan agama. Kehidupan bebas, hedonisme, dan individu telah menjadi ciri negara ini.

Siapa yang menyangka, justru di negara Jepang inilah kehadiran Islam-sang penyejuk, begitu berarti. Di antara hingar bingar kebebasan, kegalauan hidup dan rasa frustasi, sebuah cinta tumbuh bersemi.

Cinta yang didambakan seseorang kala dihadang berbagai persoalan hidup, kehilangan harapan dan tak tahu jalan penyelesaian. Cinta yang memompakan sikap optimis, mendatangkan kesejukan serta menjadi pengisi kekosongan jiwaDidamba oleh setiap mukmin yang sadar akan hakekat dirinya tak lebih dari seorang hamba.

Cinta Ilahi, tidak ada sesuatu yang lebih manis dan menyenangkan selain dari mencintai Allah. Yang menjadi ruh bagi iman dan amal.

Semoga, cinta tersebut mendapat sambutan dari Sang KekasihTidak hanya bertepuk sebelah tangan-mencintai, dan dicintai pula oleh Sang Kekasih.

Meraih mahabbatullah, sebuah manzilah yang diperebutkan orang-orang beriman.

Wallahu'alam bisshowab..
kontribusi oleh Lizsa Anggraeny
Generated: 17 September, 2008, 07:33


24 Desember 2010

"Aku dilangkahi adikku, lagi"

Tadi pagi, tiba2 ada sms masuk. dari seorang teman yang sudah kuanggap saudara. Temen tempat saling curhat. "mbak bisa telp sekarang g?" Begitu isi sms yang dikirim. Agak heran juga karena biasanya kita telponan malem saat aktifitas kerja dan kesibukan di siang hari mulai melonggar. Pasti ada hal yang sangat penting kurasa, sampe dia menyempatkan telpon di waktu2 orang efektif bekerja. akhirnya kami pun berbincang di telpon. Setelah salam seperti biasa, dia mengatakan, finally, aku harus mengalami yang dulu mba rasakan. Suara di seberang terdengar serak, seperti mau menangis. Aku dilangkahi adikku paling bungsu, sambil menahan tangis, dia berusaha menjelaskan. it's second times. Sebelumnya yang kutau dia sudah pernah dilangkahi adiknya. Si adik sudah menemukan tambatan hati terlebih dahulu, sedangkan dia belum diberi rizqi bertemu dengan orang yang bisa diajak untuk berbagi dalam suka dan duka dalam biduk rumah tangga. Dulu ketika pernikahan adik yang sebelumnya, dia bisa tegar berdiri, menghadiri pernikahan adiknya dan berusaha untuk tersenyum. Alhamdulillah semua berjalan lancar dan tiada air mata yang menetes saat pernikahan berlangsung. Untuk kali kedua ini, hantaman itu terasa lebih berat, karena si kecil yang belum lulus kuliah ternyata punya keinginan untuk melangkahinya menikah lebih dulu. Jarak umur yang begitu jauh membuatnya tidak mengira dia akan bisa dilangkahi si kecil. Percakapan kami tidak terlalu lama, hanya sekitar 10 menit itupun masih dipotong 5 menit dia menangis tanpa kata. Hanya isak yang terdengar.

Jodoh, itu adalah sebuah misteri. Ga ada satupun manusia yang bisa memprediksi siapa yang akan bersanding dengannya. Yang lebih tua bukan berarti dia akan mendapatkan jodoh lebih dulu, begitu juga sebaliknya. Belum tentu yang muda mendapatkan jodoh lebih akhir dibanding yang lebih tua. Ibarat kapal yang akan berlayar, yang muatannya penuh duluanlah yang akan berlayar terlebih dahulu dan ga mungkin kapal yang masih belum ada penumpangnya dipaksa berlayar duluan. Begitu pula dengan pernikahan, yang diberikan kesempatan Allah untuk bertemu dengan jodohnya duluanlah yang akan berlayar terlebih dahulu. Bagi yang belum diberi kesempatan itu, harus bersabar menunggu hingga muatan penuh. Siapa juga sih yang mau dan pengen telat mendapatkan pendamping hidupnya? Kata seorang kawan, hidup itu adakalanya tidak bisa memilih. Perkataan itu benar adanya, cobalah kita renungkan, kita lahir kedunia ini tanpa ada pilihan. Terlahir sebagai seorang pria atau wanita, berkulit coklat atau putih, berbeda suku bangsa, dan sebagainya. Demikian pula rezeki dan jodoh adalah hal yang berada di luar pilihan kita. Man propose, god dispose. Kita hanya bisa menduga dan berikhtiar, tetapi Allah jua yang menentukan. Jodoh, rizki juga ajal sudah ada yang menentukan. Kapan kita akan bertemu dengan si dia atau dimana kita akan dipertemukan dengan si dia, dan dengan cara apa kita dipertemukan, hanya Allah yang tau. Sudah ditakar masing-masing untuk manusia. Tidak akan pernah tertukar dengan yang lainnya. Point penting bagi kita adalah ikhtiar kita. Adapun hasil, sepenuhnya bukan hak kita untuk menentukannya. Keputusan itu mutlak hanya di tangan Allah. Kita manusia tidak berhak sedikitpun di lahan ketentuan hasil. Manusia hanya berada di wilayah ikhtiar untuk melakukan yang terbaik yang bisa dia lakukan dan melakukan usaha-usaha agar sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah.

Jika kita mengalami kejadian seperti ini dan merasa sedih, itu adalah hal yang sangat sangat wajar. Manusiawi sekali dan menunjukkan bahwa kita memang manusia seutuhnya yang memiliki rasa sedih. Bukan malaikat yang tidak pernah merasakan sakit hati atau indahnya ketika jatuh cinta. Bukan berarti ini pembenaran agar kita boleh terpuruk dalam kesedihan. Ketika Allah memberikan satu ujian bagi kita, artinya Allah menganggap kita mampu mengatasinya. “Laa yukallifullahu nafsan illa wus'aha”. Sesungguhnya Allah tidak pernah membebani seseorang di luar kemampuannya. Jika sekarang kita ditempatkan pada posisi yang belum dipertemukan jua dengan pasangan kita, artinya Allah menganggap kita sebagai pribadi yang kuat untuk menjalani ujian ini. Belum tentu orang yang sudah menikah, ketika diberi ujian dalam kesendirian menunggu pasangannya bisa kuat menghadapi ujian ini. Begitupun sebaliknya, jika kita masih belum dikasih kesempatan untuk menikah, artinya bisa jadi ketika kita diberi kesempatan Allah untuk menikah, kita tidak atau belum sanggup membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Atau bisa jadi kita tidak atau belum sanggup untuk mendidik anak-anak kita untuk menjadi jundi yang berkualitas. Allah sudah tau proporsi kita masing2 dan memberi ujian yang pas buat kita agar kita bisa menjadi manusia yang lebih baik. Menjadi manusia yang lebih kuat dari sebelumnya. Senantiasalah untuk berhusnudzan pada Allah. Bisa jadi kita diberi kesempatan menjadi lajang lebih lama juga bukan tanpa maksud. Allah memberi kesempatan kita dengan waktu luang kita yang bisa kita gunakan untuk hal yang bermanfaat. Banyak aktivis dakwah yang berguguran justru ketika dia diberi kesempatan menikah karena sedikitnya waktu yang tersisa. Sedangkan kita yang masih lajang, begitu banyak waktu luang yang bisa kita manfaatkan. Seorang teman dari jakarta, pernah bercerita padaku. Dia sudah dikaruniai 3 anak karenanya untuk berbelanja dan sekedar window shopping pun dia ga sempat. Jikapun mau menyempatkan diri, dia harus nyewa seseorang hanya sekedar jaga anak-anaknya agar ga lari-lari di mall. Bisa bahaya kalo sikecil jatuh dari eskalator karena lari-lari. Bandingkan dengan kita yang masih lajang. Kapanpun mau jalan-jalan atau window shopping, selalu ada waktu. Kita bisa beraktifitas apapun yang kita mau. Ketika masih lajang, kita mau masak kapanpun kita mau juga ga ada yang marah kan? Mau masak dua hari sekali juga OK. Berbeda lagi kalo kita sudah menikah. Kita punya kewajiban memenuhi hak makan anak-anak kita, juga pasangan kita. Kita mau bermanja diri di hari minggu dengan kesibukan apapun, ga ada yang melarang dan ga perlu minta ijin pasangan kita. Mau belanjain uang kita untuk beli baju dan pernak pernik lain pun masih bisa kita lakukan dengan lebih mudah, bisa dibandingkan ketika kita menikah. Jelas kita berdosa bila dengan enaknya membuang uang untuk shopping jika anak-anak di rumah makan makanan yang kurang terjamin dan kurang gizi, betul kan? Kita masih diberi waktu untuk belajar dan menyiapkan diri menjadi calon istri dan ibu yang baik. Justru di saat lajang ini kita bisa belajar bagaimana ilmu mendidik anak dan di saat lajang inilah, saatnya kita ngangsu kawruh, belajar bagaimana menjadi al umm, menjadi madrasatul ula bagi anak-anak kita.

So, selagi kita lajang, nikmati aja hidup kita ini sembari bersyukur atas apapun yang diberikan Allah untuk kita. Jangan lupa untuk selalu berhusnudzan pada Allah bahwa Allah sudah menyediakan seseorang yang akan kita cintai selama hidup kita di saat dan waktu yang tepat dan dengan cara yang indah.
“Ana 'inda 'abdy dzanny by”, sesungguhnya aku sesuai prasangka hambaKU. Jika kita yakin Allah memberikan pasangan pada kita, maka Allah pun pasti memberikannya. Tapi jika kita tidak yakin, maka seperti itu lah yang akan terjadi. Allah tidak akan memberikan pasangan seperti yang kita sangkakan padaNya. Yakin dan percayalah bahwa Allah tidak akan menyia hambanya yang bersabar dan senantiasa husnudzan padaNya. “Wa man yattaqillaha yaj'alahu makhraja wayarzuquhu min haitsu la yahtasib”, barang siapa yang bertakwa pada Allah, maka akan diberikan jalan keluar dan diberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Saat ini yang perlu kita lakukan hanya YAKIN dan PERCAYA bahwa Allah akan menjawab semua doa-doa kita. Allah berfirman, “ud'uuny astajib lakum”, berdoalah maka akan Kukabulkan. Bukankah Allah sang Maha menepati janji? Dan siapakah yang perkataannya paling bisa dipegang? Tentunya Allah-lah jawabannya. Dan jikapun doa kita belum kunjung di jawab Allah, jangan pernah berputus asa. “Walaa taiasu min rauhillah”, dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Bersabarlah, karena Allah pasti menjawab doa kita. Terkadang manusia memang selalu tergesa menjudge Allah tidak mau mengabulkan doanya hanya karena dia sudah berdoa beberapa lama. Padahal bisa jadi ALlah menginginkan kita senantiasa dekat dengan-Nya dalam setiap lantunan doa yang kita panjatkan, dalam setiap sujud2 yang kita lakukan dalam shalat kita. Hidup akan terasa ringan dan menyenangkan bila kita selalu ikhlas dalam menerima semua keputusan Allah.

Bagi yang sudah diberi kesempatan untuk menikah, tetapi pernikahannya mungkin tidak berjalan mulus, bersabarlah. Tetaplah untuk senantiasa bersyukur. Ada berapa banyak orang yang sebenarnya menginginkan amanah yang dibebankan pada kalian dalam pernikahan, tetapi Allah masih belum jua memberi kesempatan untuk menerima amanah itu. Sayangi dan cintai pasangan kalian. Jika Allah ternyata memberikan kalian pasangan tidak sesuai dengan yang kalian inginkan bersabarlah. Bahwa dibalik kekurangannya, Allah pasti menciptakan banyak sekali kelebihan padanya. Jikapun masih ada kekurangan, wajarlah, karena si dia juga manusia bukan malaikat. Dua insan yang menikah seharusnya bisa bersama-sama saling melengkapi dan menutupi kekurangan masing-masing dan bisa saling menguatkan untuk menjadi lebih baik. Semakin besar ujian yang harus dihadapi, maka semakin perkokoh kesabaran. Ingatlah, bahwa Allah tidak menguji hambaNya di luar kemampuannya. Bisa jadi para si lajang belum tentu sanggup menghadapi ujian yang kalian terima dan kalian hadapi dalam pernikahan. Allah memberikan kalian dengan ujian itu karena menganggap kalian mampu menghadapinya. Dan bagi yang baru saja berpisah dengan pasangannya karena perceraian, bersabarlah. Pasti ada hikmah dan anugerah dibalik perceraian itu. Kalian menjadi orang yang lebih kuat, dan husnudzan padaNya bahwa Allah sudah menyiapkan orang yang lebih baik. Adakalanya untuk bertemu dengan pasangan yang pas dan baik itu, kalian harus bertemu dulu dengan pasangan yang salah. Tidak masalah, seburuk apapun yang menimpa, yang terpenting kalian bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari yang telah lalu. Alangkah sayangnya orang yang tidak bisa mengambil pelajaran dari yang dialaminya setelah dia mendapatkan hantaman yang keras karena perpisahan dan perceraian itu. Semoga dari ujian dan cobaan yang telah dialami bisa mendewasakan dan membuat langkah lebih hati hati di masa yang akan datang.
Allahu A'lam..

"Catatan seorang teman" -by R. Naim

20 Desember 2010

Untuk Ukhti Tersayang

Dear Ukhti????...
apa kabar imanmu hari ini
semoga selalu menapak maju
apa kabar hatimu hari ini
semoga selalu bersih dari debu juga kelabu
apa kabar cintamu hari ini
semoga selalu berpeluh rindu pada Nya...

Ukhti..
sungguh indah hidup setelah menikah
apa yang sebelumnya haram menjadi halal
semua perbuatan mendapat pahala yang berlimpah di sisiNya
suka duka dilalui berdua
senang sedih ada yang menemani
tawa tangis pun bersama

Ukhti..
menikah adalah setengah dien
dan ia menggenapkan dien menjadi satu
sungguh, menikah seperti melihat dunia lain yang tiada pernah 
dikunjungi sebelumnya
apa yang tidak bisa dilihat sebelum menikah kini tidak lagi
seakan membuka mata kanan yang sebelumnya belum pernah dibuka
begitu luas, begitu indah, hingga Rasul pun menyunnahkan suatu 
pernikahan ini
"bukan termasuk ummatku, jika ia berkeinginan tidak menikah..."

Ukhti..
menikah adalah keputusan besar dari suatu perjanjian berat
pernah ada yang berkata..
"saat akad diucapkan Arsy tertinggi berguncang karena suatu perjanjian 
berat diucapkan, karena itu saat akad terjadi ada tangis disana..tangis 
suka, tangis duka..."
Allah menjadi saksi karena Dia Yang Maha Melihat lagi Menatap
dan setiap undangan yang datang akan mendoakan pernikahan ini

Ukhti..yang sedang menanti "terkasih"
nanti-lah dengan sabar
sungguh, Allah Maha Tau yang terbaik untuk dirimu
siapkan dirimu, hatimu..
sangat mudah bagiNya memberikan "terkasih" untukmu ataupun tidak
berharap dan mintalah padaNya..
pemilik alam raya dan pencipta "terkasih"mu

Ukhti..yang sedang menjelang akad
berdoa-lah selalu padaNya
penentu segalaNya...
mohon petunjukNya jika "terkasih" adalah yang terbaik untukmu
kemudahan, juga kelancaran dalam peristiwa besar nanti
sungguh, Allah Maha Tau yang terbaik untuk dirimu..
siapkan dirimu, hatimu..

Ukhti..yang telah menikah
jagalah nikmatNya yang besar ini
hanya dengan izinNya dirimu dan "terkasih"mu bersatu, tiada yang lain
jadilah penyejuk hati dan pandangannya..
menjadi istri sholehah dambaan..

Ukhti..
bahagiamu adalah bahagiaku
sedihmu juga sedihku
tawamu, tawaku juga
tangismu adalah tangisku
semoga Allah Yang Maha Indah,
memudahkan langkah ini..
memberikan yang terbaik menurutNya
dan menjadikan wanita dan istri juga ibu sholehah



by:bayu eko fitri yanto