22 Maret 2011

Ayahku "hanya" Seorang Buruh

Aku bukan orang yang suka menguping percakapan orang lain. Tapi pada suatu malam, sewaktu aku melintasi halaman rumah kami, aku ternyata melakukannya. Istriku sedang berbicara kepada anak bungsu kami selagi ia duduk di lantai dapur. Jadi aku berhenti untuk mendengarkan di luar pintu belakang.

Sepertinya ia mendengar beberapa anak menyombongkan pekerjaan ayah mereka. Bahwa semuanya para eksekutif hebat.. lalu mereka bertanya pada Bob, anak kami, Papamu memiliki karier bagus macam apa?" mulailah mereka bertanya.Bob menggumam perlahan sambil memalingkan muka, "Ia hanya seorang buruh".

Istriku yang baik menunggu sampai mereka semua pergi, lalu memanggil masuk putra kami. Katanya, "Mama ingin bicara sama kamu, Nak" seraya mencium pipinya yang berlesung pipit. "Kamu bilang, papamu hanya seorang buruh, dan apa yang kamu katakan itu betul. Tapi Mama ragu, apakah kamu tahu apa artinya yang sebenarnya, jadi Mama akan menjelaskan padamu."

"Dalam seluruh industri yang membuat negeri kita hebat. Dalam semua toko dan warung dan truk yang menarik muatan setiap hari... Setiap kali kamu melihat rumah baru dibangun, ingatlah, anakku. Diperlukan seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu!"

"Kalau semua bos meninggalkan meja mereka dan libur selama setahun. Roda industri masih bisa berjalan-berputar dengan cepat. Jika orang seperti papamu berhenti bekerja, industri itu tak bisa berjalan. Perlu seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu!"

Aku menelan air mata dan berdeham saat memasuki pintu.

Mata putra kecilku berbinar gembira saat ia melompat dari lantai. Ia memelukku sambil berkata, "Hai, Pa, aku bangga jadi anak Papa.. Karena Papa adalah satu dari orang-orang istimewa yang menyelesaikan pekerjaan besar." 

Oleh: Ed Peterman
Dari: Chicken Soup for the Soul 

10 Maret 2011

Kisah Seorang Istri

Ini adalah suatu kisah semoga bisa diambil pelajaran oleh saudari-saudari muslimah..
(diceritakan oleh seorang akhwat)

Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.... seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. "anty sudah menikah?". "Belum mbak", jawabku. Kemudian akhwat itu .bertanya lagi "kenapa?" hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.
"mbak menunggu siapa?" aku mencoba bertanya. "nunggu suami" jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya- tanya, dari mana mbak ini?, Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “mbak kerja dimana?", entahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
"Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi", jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
"kenapa?" tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab "karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami" jawabnya tegas.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.
"saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta / bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata,
"abi, umi pusing nih, ambil sendirilah".
Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.
Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.
"anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb / bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho", begitu katanya.
Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya", tutupnya.
*postingan pinjam milik teman*
Barokallahu lanaa wa iyyaakum..

02 Maret 2011

Mellow

engkau tau..
rasa-rasa ini ga pernah beranjak dr tempatnya..
ku ingin kau paham..
semua itu terasa menguliti jiwa dan dalamnya hati
tertanam..mengakar kuat..
  
aku me-rasaimu..
bukan karena harus..
tapi karena rasa itu telah pada tempatnya..
  
sehingga kutakut menoleh kebelakang
kedepanpun ku masih ragu melangkah..
kegamangan melanda..(dan apakah kita akan tetap jalan ditempat?)
bantu aku dgn doa-doa yg pernah kita amin kan..
  
~dari.dan.untuk.sebuah.hati~
(kalau memang impian kita masih sama)

27 Februari 2011

Maukah Kamu Menikahiku

Gadis itu datang dengan segenap rasa yang mengaduk-aduk hatinya. Perlahan ia menghampiri pria itu, seorang pria yang gagah lagi tampan, serta idola orang-orang. Malu pun kian membuncah di dadanya dan makin meronai wajahnya, ia berkata, “Aku menyerahkan diriku padamu..“
Siapa gadis itu dan siapa pria itu? Jangan salah paham, penggalan cerita di atas bukan diambil dari novel remaja  dan bukan pula dari cerita roman, apalagi cerita “17 tahun ke atas”. Penggalan cerita di atas bukan fiktif, itu kisah nyata yang dinukil oleh orang-orang mulia nan jujur. Tahukah Anda siapa gadis itu dan siapa pria itu? Gadis itu adalah seorang shahabiyah*, sedangkan pria itu adalah seorang pemimpin bagi kaumnya, dan selain kaumnya, bahkan pemimpin para utusan ilahi, pemimpin umat manusia, pemimpin makhluk Allah sejagat alam, yaitu Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم . Kelanjutan kisah di atas bisa dilihat di Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Ada apa antara shahabiyah itu dengan Nabi kita? Dia mendatangi beliau untuk menawarkan dirinya untuk dinikahi! Lho memang boleh wanita “agresif” seperti itu?  Tentu saja boleh, karena siapa yang melarang wanita untuk “agresif” dalam hal ini? Begitu sangat berdosakah kalau wanita “seagresif” ini? Kalau itu memang perbuatan dosa dan pelanggaran terhadap syariat islam, tentu Rasulullah صلى الله عليه وسلم akan menegur shahabiyah tersebut dan beliau juga tentunya akan menjelaskan larangan tentang hal itu kepada para sahabatnya, sebagaimana kebiasaan beliau tatkala menyaksikan kesalahan yang dilakukan beberapa sahabatnya. Akan tetapi, dalam kasus di atas, ternyata  tak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan beliau صلى الله عليه وسلم kepada shahabiyah tersebut apakah teguran, nasihat apalagi hardikan atas apa yang diperbuatnya. Sebab kelanjutan dari kisah di atas, setelah beliau memandanginya, beliau terdiam (karena tidak tertarik dengannya). Melihat gelagat seperti itu, sahabat yang ada di sisi beliau berkata dengan penuh semangat, “Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku dengannya, kalau engkau memang tak berminat dengannya. “ di akhir hadits, beliau pun menikahkannya dengan wanita tersebut.
Kalau begitu bukanlah aib dan bukan pula suatu yang dimakruhkan apalagi diharamkan bila seorang wanita menawarkan diri untuk dinikahi kepada pria yang ia pandang baik akhlak dan agamanya. Hanya saja, yang perlu digaris bawahi dan digaris atasi di sini yaitu kalimat untuk dinikahi. Boleh seorang wanita menawarkan dirinya kepada seorang pria untuk dinikahi, bukan untuk dipacari dan bukan pula dicandai apakah dengan alasan “ta’aruf”, “maslahat dakwah” dan lain-lain.
Seorang wanita memang diberi kelebihan, keistimewaan dan kemuliaan oleh Allah berupa sifat malu yang sangat dominan dalam perilakunya, akan tetapi apakah sifat malunya tersebut menghalanginya untuk menggapai kenikmatan yang disyariatkan Allah? Shahabiyah di atas mencontohkan kepada kita, betapapun lekatnya sifat wanita  pada dirinya dan betapapun besarnya rasa malu yang ada pada dirinya, itu tidak menghalanginya untuk mendapatkan apa yang dihalalkan untuknya oleh Rabbnya. Di satu sisi ia “nekat” dan “agresif”, akan tetapi di sisi lain ia adalah seorang shahabiyah yang tentunya lebih mulia, lebih suci hatinya, lebih banyak ibadahnya dan lebih menjaga kehormatan daripada wanita manapun, dan dimanapun setelah masanya. Ia termasuk deretan wanita-wanita terbaik umat ini, sangat jauh melampaui kita! Nabi kita bersabda, “Sebaik-baik generasi adalah generasiku (Para sahabat dan shahabiyah) kemudian setelahnya (tabi’in) kemudian setelahnya(tabi’ut tabi’in). “ (HR. Bukhari Muslim).
Jadi termasuk cara yang diperbolehkan oleh  islam bagi wanita untuk mendapatkan jodoh adalah dengan menawarkan dirinya kepada pria yang disukainya. Dan itu termasuk bentuk ikhtiar yang diperbolehkan dalam islam. Sebab,  jodoh itu tidak bisa didapatkan hanya dengan menengadahkan tangan ke langit dan tidak cukup pula dengan menghiasi malam-malam dengan air mata yang terurai di tempat sujud. Sebab,  “langit itu tidak menurunkan hujan berupa emas”. Demikian kata mutiara dari sahabat Nabi yang mulia, yaitu ‘Umar bin Khaththab. Kata ini keluar dari lisannya tatkala menyaksikan seorang yang seolah-olah ingin mendapatkan rezeki akan tetapi ia hanya menyibukkan dirinya dengan ibadah di masjid dan tidak bekerja.
Demikian pula, untuk menggapai jodoh tak cukup hanya dengan mengandalkan kemampuan kita sendiri atau bantuan orang lain, tanpa mengingat bahwa di tangan-Nya lah jodoh seluruh makhluk. Bila Dia berkehendak untuk memberikan jodoh kepada seorang hamba, maka Dia akan memberinya  walaupun ia “lari” darinya. Sebaliknya,  kalau Dia tak menghendaki, maka  jodoh tak akan ia temukan meskipun ia berusaha mencarinya ke seluruh penjuru dunia, menembus laut, membelah gunung. Jodoh itu di tangan-Nya.
Oleh karena itu, dalam menjalankan segala usaha, di antaranya mencari jodoh, seorang muslim dan muslimah dituntut menjalankan dua hal : berikhtiar dengan mencari dan menjemputnya, kemudian bertawakkal kepada-Nya dengan berdoa dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya.
Jadi jika seorang wanita telah mengerahkan segala usahanya untuk mencari jodoh (disamping dengan berdoa kepada Allah juga tentunya), entah dengan dijodohkan orang tua, atau dengan perantara comblang atau cara lainnya yang tidak melanggar syariat, akan tetapi belum pula mendapatkannya, kenapa tidak coba saja cara yang ditempuh shahabiyah di atas? Itu salah satu bentuk ikhtiar yang diperbolehkan, siapa tahu melalui sebab itu Allah mengantarkannya menuju pelaminan. Bukankah itu lebih baik daripada waktu memakannya hari demi hari?
Maka, tak mengapa, meskipun darahmu berdesir, hatimu bergetar, tubuhmu menggeletar, cobalah datangi pria saleh itu, katakanlah, “Akh/ Mas/ Bang/ Kang, maukah kamu menikahiku? “
--------------------------------------------------------------
*Shahabiyah adalah wanita yang hidup di zaman Nabi, pernah bertemu dengan beliau dan beriman  kemudian ia mati di atas islam. Shahabiyah itu dikategorikan sebagai sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم yang tentunya memilki keutamaan yang banyak lagi mulia dan itu telah banyak disebutkan dalam kitab-kitab aqidah.