23 Oktober 2011

Ketika Sayap Patah

Jika kau kira
dengan sebelah sayap
aku akan terkoyak
maka camkanlah..!
Dengan sebelah sayap itu
akan ku jelajahi gunung
ombak-ombak samudera
dan gemintang di angkasa..

14 Oktober 2011

Butterfly

Cinta itu seperti kupu-kupu. Tambah dikejar, tambah lari.
Tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan datang disaat kamu tidak mengharapkannya.
Cinta dapat membuatmu bahagia tapi sering juga bikin sedih, tapi cinta baru berharga kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya. Jadi jangan terburu-buru dan pilih yang terbaik.
Cinta bukan bagaimana menjadi pasangan yang "sempurna" bagi seseorang. Tapi bagaimana menemukan seseorang yang dapat membantumu menjadi dirimu sendiri.
Jangan pernah bilang "I love you" kalau kamu tidak perduli. Jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada. Jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu akan menghancurkan hatinya. Jangan pernah menatap matanya kalau semua yang kamu lakukan hanya berbohong.
Hal paling kejam yang seseorang lakukan kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta, sementara kamu tidak berniat untuk menangkapnya…
Cinta bukan "Ini salah kamu", tapi "Ma’afkan aku".
Bukan "Kamu dimana sih?", tapi "Aku disini".
Bukan "Gimana sih kamu?", tapi "Aku ngerti kok".
Bukan "Coba kamu gak kayak gini", tapi "Aku cinta kamu seperti kamu apa adanya".
Kompatibilitas yang paling benar bukan diukur berdasarkan berapa lama kalian sudah bersama maupun berapa sering kalian bersama, tapi apakah selama kalian bersama, kalian selalu saling mengisi satu sama lain dan saling membuat hidup yang berkualitas.
Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu inginkan dan menyayat sedalam yang kamu ijinkan. Yang berat bukan bagaimana caranya menanggulangi kesedihan dan kerinduan itu, tapi bagaimana belajar darinya.
Caranya jatuh cinta: jatuh tapi jangan terhuyung-huyung, konsisten tapi jangan memaksa, berbagi dan jangan bersikap tidak adil, mengerti dan cobalah untuk tidak banyak menuntut, sedih tapi jangan pernah simpan kesedihan itu.
Memang sakit melihat orang yang kamu cintai sedang berbahagia dengan orang lain tapi lebih sakit lagi kalau orang yang kamu cintai itu tidak berbahagia bersama kamu.
Cinta akan menyakitkan ketika kamu berpisah dengan seseorang, lebih menyakitkan apabila kamu dilupakan oleh kekasihmu, tapi cinta akan lebih menyakitkan lagi apabila seseorang yang kamu sayangi tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan.
Yang paling menyedihkan dalam hidup adalah menemukan seseorang dan jatuh cinta, hanya untuk menemukan bahwa dia bukan untuk kamu dan kamu sudah menghabiskan banyak waktu untuk orang yang tidak pernah menghargainya.
Kalau dia tidak "worth it" sekarang, dia tidak akan pernah "worth it" setahun lagi ataupun 10 tahun lagi. Biarkan dia pergi… walaupun itu menyakitkan…

29 September 2011

Menantu Bungsu

Pernahkah terbayang kalau ada pihak yang selalu khawatir dengan bangunan rumah tangga orang lain. Siapa lagi kalau bukan orang tua. Merekalah pihak yang kerap khawatir dengan keberlangsungan rumah tangga anak-anaknya.

Hal itu memang wajar. Ada rasa puas karena sukses menunaikan amanah. Ada juga gundah kalau-kalau rumah tangga anak tak berlangsung lama. Terlebih lagi ketika proses pernikahan terasa tak ‘normal’. Hal itulah yang kerap dirasakan Pak Dede.

Bapak usia lima puluhan ini bisa dibilang cuci gudang. Gadis bungsunya baru saja menikah. Usai sudah tugasnya menunaikan amanah lima anak. Semuanya sudah mandiri. Semuanaya sudah berkeluarga.

Namun, ada yang lain buat yang terakhir. Gadis bungsu kesayangannya tiba-tiba minta nikah. Permintaan ini seperti bom di siang bolong. Heboh! Khususnya buat Pak Dede. “Bayangkan, kenalan sama cowok saja belum pernah. Eh, tahu-tahu udah punya calon suami!” ucap Pak Dede suatu kali.

Ia nggak habis pikir, gimana caranya tiba-tiba ada calon suami. Tanpa kenalan. Tanpa pacaran. Pak Dede tahu benar bungsunya. Beda dengan kakak-kakaknya yang hobi gaul. Tiap malam minggu, semua anaknya selalu keluar. Kecuali si bungsu itu.

Seumur-umur, Pak Dede belum pernah menerima tamu pemuda yang nyari-nyari bungsunya. Kecuali suatu kali. Dan hal itu telah membuktikan kalau ucapan bungsunya benar-benar serius. Pemuda itu bilang ke Pak Dede, “Maksud saya ke sini mau melamar anak Bapak!” Hampir-hampir saja, Pak Dede pingsan.

Kalau bukan karena khawatir bungsunya bisa patah arang, Pak Dede mungkin akan menolak mentah-mentah. Lamaran itu pun diterima. Dan pernikahan pun akhirnya berlangsung meriah. Ia yakin, anaknya yang berjilbab itu tidak mungkin hamil lebih dulu. Lha, melihat orang pacaran saja belum pernah. Cuma satu hal yang mengusik pikiran Pak Dede: dukun mana yang semanjur itu? Benar-benar tokcer! Apalagi menantu barunya itu bisa dibilang biasa-biasa saja. Kaya tidak, ganteng juga jauh.

Itulah kenapa, Pak Dede menolak ketika bungsunya mau pindah rumah. “Jangan! Tinggal bareng aja sama ayah dan ibu,” ucapnya menanggapi permintaan anak dan menantunya. Pak Dede pun berdalih kalau ia dan isterinya akan kesepian ditinggal anak-anak.

Sebenarnya, Pak Dede punya alasan sendiri. Ia masih penasaran, hal apa yang membuat anaknya bisa cinta sama anak menantunya itu. Hampir tiap malam, Pak Dede menguntit sang menantu. Kalau kedapatan sedang nyebar kemenyan, ia akan langsung tangkap.

Tujuh hari tujuh malam, Pak Dede terus menguntit. Hingga di malam kedelapan, menantunya keluar kamar. Waktu menunjukkan pukul dua malam. Suatu hal yang tidak lazim buat kebiasaan pengantin baru. Soalnya, di kamar itu sudah ada kamar mandi. Buat apalagi keluar kamar kalau bukan urusan mistik. Pak Dede tetap menunggu. Ia makin curiga ketika manantunya menuju ruang atas. Padahal, di atas cuma ada tiga ruangan: menjemur, ruang baca, dan mushola. Pak Dede makin penasaran.

Setelah tiba di atas, ia perhatikan kalau menantunya masuk ke ruang mushola. “Gila, mau apa tengah malam di mushola?” bisik batin Pak Dede. Soalnya, Ia sendiri jarang ke situ. Ia menunggu saat tepat. Pak Dede yakin, tak lama lagi, akan ada suara mantera-mantera dan bau aneh. Ternyata, tidak. Sayup-sayup, Pak dede mendengar orang membaca Al Quran. Suaranya mengalun merdu. Indah sekali. Hampir-hampir saja Pak Dede menangis karena untaian iramanya yang begitu menyentuh. "Luar biasa. Menantuku ternyata bukan orang sembarangan!" batin Pak Dede sambil kembali ke kamar tidur.

Kini, Pak dede mengakui kalau menantunya itu orang alim. Tapi, ia masih ragu. Ia yakin, kalau pernikahan yang prematur pasti akan ada ketidakcocokan. Hampir tak pernah bosan, Pak Dede mencuri dengar dari balik pintu kamar anaknya.

Benar saja. Dari kamar seperti ada suara ribut. Anak dan menantunya sedang berebut omongan. "nggak bisa, kamu yang salah! Akang yang salah!" Dan, seterusnya. Spontan, Pak Dede mengetuk pintu kamar. Sudah tak sabar memberi nasihat.

Setelah pintu kamar terbuka, Pak Dede langsung bersuara. "Anakku. Itulah sebabnya jika pernikahan terburu-buru. Kamu akan terus bertengkar!" Anehnya, ucapan itu justru membuat anak dan menantunya tersenyum. Dan si bungsu pun bilang, "Ayah sayang, kami bukan sedang cekcok. Kami lagi beda pendapat soal ada-tidaknya Alqaedah!"

Pak Dede cuma bingung. Ia pun menggaruk-garuk kepala. Di pikirannya cuma ada satu pertanyaan: makanan khas mana Alqaedah itu?

18 Juli 2011

MENIKAHIMU KARENA ALLAH

Sebuah Kisah....
Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup. Seharusnya saat itu aku menjadi makhluk yang paling berbahagia. Tapi yang aku rasakan justru rasa haru biru. Betapa tidak, di hari bersejarah ini tak ada satu pun sanak saudara yang menemaniku ke tempat mempelai wanita. Apalagi ibu.

Beliau yang paling keras menentang perkawinanku. Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari, "Jadi juga kau nikah sama “buntelan karung hitam” itu ....?!?" Duh......, hatiku sempat kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon istriku disebut “buntelan karung hitam”.

"Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto. Masa suka sih sama gadis hitam, gendut dengan wajah yang sama sekali tak menarik dan cacat kakinya. Lebih tua beberapa tahun lagi dibanding kamu !!" sambung ibu lagi.

"Cukup Bu! Cukup! Tak usah ibu menghina sekasar itu. Dia kan ciptaan Allah. Bagaimana jika pencipta-Nya marah sama ibu...?" Kali ini aku terpaksa menimpali ucapan ibu dengan sedikit emosi. Rupanya ibu amat tersinggung mendengar ucapanku.

"Oh.... rupanya kau lebih memillih perempuan itu ketimbang keluargamu. Baiklah Yanto. Silahkan kau menikah tapi jangan harap kau akan dapatkan seorang dari kami ada di tempatmu saat itu. Dan jangan kau bawa perempuan itu ke rumah ini !!"

DEGG !!!!

"Yanto.... jangan bengong terus. Sebentar lagi penghulu tiba," teguran Ismail membuyarkan lamunanku.

Segera kuucapkan istighfar dalam hati. "Alhamdulillah penghulu sudah tiba. Bersiaplah ...akhi," sekali lagi Ismail memberi semangat padaku. "Aku terima nikahnya, kawinnya Shalihah binti Mahmud almarhum dengan mas kawin seperangkat alat sholat tunai !" Alhamdulillah lancar juga aku mengucapkan aqad nikah.

"Ya Allah hari ini telah Engkau izinkan aku untuk meraih setengah dien. Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain."

Dikamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama. Memandangi istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam. Setelah sekian lama kami saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.

"Assalamu’alaikum .... permintaan hafalan Qur’annya mau di cek kapan De”...?" tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya.

Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur’an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui.
"Nanti saja dalam qiyamullail," jawab istriku, masih dalam tunduknya.

Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun ketika aku beri isyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu , ia menyerah. Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu ..bahwa wajah istriku “tidak menarik”. Sekelebat pikiran itu muncul ....dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.

"Bang, sudah saya katakan sejak awal ta’aruf, bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahnya Imam malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya.
“Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam pertama pernikahan mereka," ...

“Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak." (QS An-Nisa:19)

Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang memiliki cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah.

"Ya Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milikMu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas."
Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajah yang masih menyisakan segumpal ragu.

"Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya, Bang. Sungguh... saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk," ucapnya lagi.

"Tidak...De”, Sungguh sejak awal niat Abang menikahimu karena Allah. Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh keluarga memboikot untuk tak datang tadi pagi," paparku sambil menggenggam erat tangannya.

Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya bait-bait do’a kubentangkan pada Nya.

"Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Robbi saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu, pertemukanlah aku dengan-Mu dalam Jannah-Mu !" Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku dengan segenap hati yang ikhlas. Ah, .. sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita sholehah sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya.

"...Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya pada Allah ..." (QS. al-Baqarah:165)

♥ ♥
Ya Allah sesungguhnya aku ini lemah , maka kuatkanlah aku dan aku ini hina maka muliakanlah aku dan aku ini fakir maka kayakanlah aku wahai Dzat yang maha Pengasih.

Sumber: www.dudung.net