17 Desember 2010

Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu


Oleh : Neno Warisman - ‘Izinkan Aku Bertutur’

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”
 Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu?
Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.” Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.
 
Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: “Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.” Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”
 
Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.
 
Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.
 
Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.
 
Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Ahmad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahmad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.
Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.
 
Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu.
 
Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”
Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan . Kalau lelaki ingin seperti aku!”
 
Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.
Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya.
 
Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.
 
Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.
Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.
 
Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.
Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”
 
Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.
Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi . Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”
Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam.
 
Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
 
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.
 
Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan”
 
Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku.
Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”
 
Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.
 
Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.
Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:
“Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!”
 
Amin, alhamdulillah
 

menjelang dini hari. .
atas nama Cinta

16 Desember 2010

Ketika Aku Melihatnya Menangis

oleh Ummi zahid Jumat, 19 Sep 2008
Setelah lima tahun perjalanan usia pernikahan kami, jelang shubuh hari ini, kali pertama aku melihat suamiku menangis, terisak dan berlinang air mata.
Haru…

Setelah lima tahun perjalanan usia pernikahan kami, jelang shubuh hari ini, kali pertama aku melihat suamiku menangis, terisak dan berlinang air mata. Tak pernah kulihat sebelumnya dia menangis, pun ketika shalat malam atau ketika Allah sedang menguji kami. Aku hanya akan mendengar parau suaranya atau isak sesaat saat berdua berjama’ah mengisi malam dengan Qiyammul Lail, tidak seperti saat imsak menjelang shubuh ini, sungguh aku melihatnya menangis. Ya, suamiku sosok yang sederhana dan bersahaja itu menangis.
Pembicaraan berawal dari kesulitan-kesulitan yang sedang dialami orang tua kami lengkapnya orangtuaku atau mertuanya, saat ini berkaitan dengan masalah keuangan. Hutang-hutang yang melilit dan diminta untuk segera dilunasi. Sebenarnya aku diminta tidak menceritakan masalah ini ke suamiku, tapi karena aku dan suami telah saling berkomitmen untuk saling terbuka dan tidak memendam suatu masalah atau perasaan sendiri saja, akhirnya aku bercerita juga.
Ketika aku ceritakan masalah tersebut ke suamiku, aku mendapatkan jawaban yang tak kuduga sebelumnya. Dia meminta agar THR (Tunjangan Hari Raya) yang baru kami dapat agar ada yang dikirim untuk dapat membantu walaupun tidak dapat menyelesaikan semua hutang orang tuaku. Jujur saja, aku belum terfikir kearah sana, karena menjelang hari raya ini begitu banyak pengeluaran dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Belum lagi biaya untuk mudik ke Jakarta karena kami tinggal di pulau Sumatra yang tentunya akan menghabiskan lembaran-lembaran rupiah yang tidak sedikit.
Ada kata-kata mengalir dari lisannya yang seakan menohok ruang dadaku. “ Orang tua tidak perlu tahu kesulitan-kesulitan kita di sini. Coba ummi bayangkan itulah akhlak Rosulullah SAW. Betapa Beliau tidak membiarkan harta yang didapat kecuali hanya mampir sebentar di rumah tangganya. Beliau susah, tapi di balik kesusahan itu ada tujuan yang jelas yang akan dituju. Ridho Allah.”
Ketika kukatakan jumlahnya cukup besar sehingga akan membuat orang tua mencari pinjaman lain untuk menutupi hutang yang ada.
Katanya: “ Setidaknya kita bisa sedikit membantu dan mengurangi jumlah pinjaman kalaupun akan berhutang lagi. Ingat, saat ini kita sedang pegang uang walaupun kita sedang butuh. Tapi saat ini hak uang yang utama adalah untuk membayar hutang karena memang harus dibayar apalagi jika sudah berhubungan dengan masalah orang tua. Hutang dengan institusi pastinya berkenaan dengan bunga, tapi jika hutangnya dengan perorangan selain bunga ada perasaan di sana.”
“ Coba ummi bayangkan lagi, bagaimana sahabat-sahabat Rosulullah SAW, Abu Bakar r.a contohnya, mengikhlaskan harta bendanya dijalan Allah dan hanya meninggalkan Allah dan Rosul-Nya untuk keluarganya. Kita belum sampai ke sana Mi, jauh..sangat jauh” katanya dengan suara mulai parau.
 “ Apalagi ketika…ada pembagian ghonimah perang dan ternyata sebagian besar ghonimah itu diberikan kepada kaum Muhajirin sehingga… sahabat Anshor sempat bertanya-tanya dan Rosulullah yang mulia berkata..” katanya mulai terisak.
“ Apakah kalian merasa tidak cukup ketika setelah peperangan mendapati Rosul kalian pulang bersama kalian…” Dan diapun menangis..

Aku hanya dapat menatap sosok yang aku cintai didepanku menangis, tersedu, berlinangan air mata. Tanpa sadar air mataku mengalir. Menangis karena melihatnya menangis dan menagis karena kata-katanya yang mengingatkanku ketika diri ini mulai silau pada dunia.
Aku terus menatapnya sampai akhirnya tangisnya terhenti seiring lantunan adzan Shubuh yang memanggilnya untuk shalat berjama’ah dimasjid.
Ba’da shubuh ku termenung…Ya, seorang mukmin harus menganggap harta sebagai sarana, bukan tujuan. Ia membuktikan kebenaran imannya dengan mencari harta secara halal,menginfaqkannya sejalan dengan aturan Allah, dan berderma untuk mendapatkan keRidhoan Allah. Karena itu, ia berusaha menguasai harta untuk menjaga kehormatan, mempermudah melakukan kebajikan dan menghapuskan diri dari berbagai kekeliruan. Meski demikian seorang mukmin harus waspada terhadap harta dan selalu mengontrol kecenderungan hati terhadapnya.
Sebab, harta adalah salah satu ujian untuk mengukur kualitas keimanan.

Semoga Ramadhan kali ini mengajarkan aku menjadi seorang mukmin yang tawadhu’ kepada Allah SWT dan sesama. Amin.
source : eramuslim.com

Mutiara Ikhlas

"Ikhlas adalah amal yang tidak diketahui oleh Malaikat sehingga bila diketahui ia akan menuliskannya, tidak diketahui oleh musuh sehingga bila diketahui ia kan merusaknya, dan pelakunya tidak merasa ta'jub dengan amal tersebut sehingga bila ia ta'jub akan membatalkan amal tersebut"
(Ibn al-Qayyim, al-Fawa'id)
"Ilmu itu tergantung pada pengamalannya, amal tergantung pada ke Ikhlasannya dan Ikhlas kepada Allah akan menyebabkan pemahaman tentang Allah Azza wa Jalla
(al-Affani, Rubhan al –Lail II:470)
"Amal yang paling bermanfaat adalah bila tidak diketahui orang lain ketika melakukannya karena ikhlas, juga tidak diketahui oleh jiwa-nya karena kebaikan yang terlihat olehnya. Nafsu dan makhluk lain tidak melihatnya"
(Ibn al-Qayyim, al-Fawa'id)
"Tidak melakukan suatu amal karena kuatir terlihat orang lain adalah perbuatan riya', beramal agar terlihat orang lain adalah syirik', dan sikap Ikhlas adalah bila Allah membebaskanmu dari kedua hal tersebut
(az-Dzahabi, Sair A'lam an-Nubala'VIII: 377)
"Kesalehan amal adalah dengan kesalehan hati, kesalehan hati adalah dengan kesalehan niat. Barangsiapa membersihkan niatnya, maka akan bersih amalnya. Barangsiapa mengotorinya maka amalnya akan tercampuri
(Imam Ahmad, az-Zuhud)

Source::
 "Bersujud dikeheningan Malam"
111 Jalan Menumbuhkan Gairah Qiyamullail
By : Muhammad Shalih Ali Abdullah Ishaq

Kata Terurai Jadi Laku

Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu pertama kali masuk  ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.

Suatu saat perempuan itu berkata padanya, “Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri.” Tapi lelaki itu malah menjawab, “Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi.”

Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, “Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik.”

Begitulah cinta ketika ia terurai jadi laku. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam laku… Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata… Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhunjam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu. Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai jadi laku adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita

Tidak mudah memang menemukan cinta yang ini. Tapi harus begitulah cinta, seperti kata Imam Syafii,

Kalau sudah pasti ada cinta di sisimu

Semua kan jadi enteng

Dan semua yang ada di atas tanah

Hanyalah tanah jua

by: Anis Matta