16 Februari 2011

Jejak

Aku masih lengang sebelum kau datang
Hanya ada sedikit lukisan buih
Dan segenggam desiran angin
Sesekali ada camar hitam yang melintas
Atau jejakan pemancing yang berharap kemurahanku menghantar ikan
Selebihnya tetap sama
Sunyi dalam keriuhan



Aku masih keras sebelum kau tiba
Garang menghempas kukuhnya beton abu-abu
Mengikisnya seiring hitungan waktu
Tak kenal arti kelembutan
Tak paham dengan makna sentuhan
Bahkan belum lagi mengerti ketegaran bukan berarti kesendirian



Lalu jejakmu menghampiri
Membentuk pahatan di antara ruang-ruang sunyi
Baru ku tahu rasanya tidak sendiri
Baru ku mengerti tegarku hanya ilusi
Dan kini, setelah kau sirna

Ku tau jejakmu
Menjadikanku takkan pernah sama lagi


K E R A N G

Kerang, bukan karang. Tidak berkaitan dengan pengarang. Juga dengan sastrawan. Apalagi esais atau budayawan. Jauh. 

Tidak perlu juga muluk2 dalam berpikir. Yang aku sebutkan tadi semata2 hanya kerang – terdiri dari susunan huruf2 sederhana, k-e-r-a-n-g, dan dibaca secara sederhana pula, menjadi ke-rang

Namun bila di antara kalian, ada yang belum juga mengerti apa dan bagaimana kerang yang kumaksudkan, baiklah, kugambarkan demikian. 

Dia seperti dua belahan batu karang, yang saling mengatup penuh keras kepala. Berwarna putih namun dengan sisik di bagian luarnya, seakan butiran garam yang masih tertinggal setelah bergesekan dengan buih laut yang asin. Sisiknya sendiri tidak lagi meninggalkan rasa asin, hanya goresan2 yang mampu menimbulkan rasa perih pada lembutnya jemari yang mencoba membuka cangkangnya. 

Kuku jemari yang telah ter-manicure rapi pun somplak. 

Jangan coba2 tanyakan makna kuku jemari yang telah somplak, karena hal itu sungguh menyakitkan. Dan mengapa aku menggunakan kata somplak, karena aku tidak lagi hendak memasung makna kata, yang terkadang dengan palang pasungannya, menjadikannya tidak lagi berpadanan makna yang serba nyata 

Di dalamnya kutemukan segumpal darah berwarna merah yang telah menjadi daging. Ada rambutnya yang berwarna hitam. Barangkali itulah mengapa mereka memanggilnya dara.

Dara …..

Cangkang bagian dalamnya halus dan berwarna putih, sehalus dan seputih kasih sayang yang didambakan makhluk manusia di hari2 mereka merayakan kasih sayang. 

Kini perayaan mereka tidak lagi putih. Di mana2 hanya warna merah, yang dipersembahkan dalam bentuk2 mawar penuh duri. 

Kasar kulit cangkang itu telah melukaiku. Membuat somplak kuku jemariku. Dan aku marah. Demikian tingginya kolestrol yang disumbangkannya padaku sehingga dengan cepat darahku naik hingga ubun2 kepala. 

Kulempar kerang yang tidak berhasil kubuka itu dari tanganku. Kerang itu menghantam lantai, masih tidak terbuka. Lalu aku menjadi semakin marah, …. dan menangis.



Ch1ll 

10 Februari 2011

Maka Nikmatilah, Karena Ini Pun Akan Berlalu

Saat di depanmu terhidang nasi sayur tahu tempe, mengapa mesti sibuk berandai-andai dapat makan ikan, daging atau ayam ala resto? Padahal kalau saja kau nikmati apa yang ada tanpa berkesah, pastilah rasanya tak jauh beda. Karena enak atau tidaknya makanan lebih tergantung kepada rasa lapar dan mau tidaknya kita menerima apa yang ada.
 
Maka nikmatilah, karena jika engkau terus mengharap makanan yang lebih enak, makanan yang ada di depanmu akan basi, padahal belum tentu besok engkau akan mendapatkan yang lebih baik daripada hari ini.
Saat engkau menemui udara pagi ini cerah, langit hari ini biru indah, mengapa sibuk mencemaskan hujan yang tak kunjung datang? Padahal kalau saja kau nikmati adanya tanpa kesahpastilah kau dapat mengerjakan begitu banyak kegiatan dengan penuh kegembiraan. Maka nikmatilah, jangan malah resah memikirkan hujan yang tak kunjung tumpah. Karena jika kau tak menikmatinya, maka saat tiba masanya hujan menggenangi tanahmu, kau pun kan kembali resah memikirkan kapan hujan berhenti.
Percayalah, semua ini akan berlalu, maka mengapa harus memikirkan sesuatu yang tak ada, namun suatu saat pasti akan hadir jua? Sedang hal itu hanya akan membuat kita kehilangan keindahan hari ini karena mencemaskan sesuatu yang belum pasti.
Saat engkau memiliki sebuah pekerjaan dan mendapatkan penghasilan, meski tak sesuai dengan yang kau inginkan, mengapa mesti kesal dan membayangkan pekerjaan ideal yang jauh dari jangkauan? Padahal kalau saja kau nikmati apa yang kau miliki, tentu akan lebih mudah menjalani.
 
Maka nikmatilah, karena bisa jadi saat kau dapatkan apa yang kau inginkan, ternyata tak seindah yang kau bayangkan.
 
Maka nikmatilah, karena bisa jadi saat sudah kau lepaskan, kau akan menyesal, ternyata begitu banyak kebaikan yang tidak kau lihat sebelumnya. Ternyata begitu banyak keindahan yang terlewat tak kau nikmati.
Maka nikmatilah, dan jangan habiskan waktumu dengan mengeluh dan menginginkan yang tidak ada.
 
Maka nikmatilah, karena suatu saat, semua ini pun akan berlalu.
Maka nikmatilah, jangan sampai kau kehilangan nikmatnya dan hanya mendapatkan getirnya saja.
 
Maka nikmatilah dengan bersyukur dan memanfaatkan apa yang kau miliki dengan lebih baik lagi agar besok menjadi sesuatu yang berguna. Maka nikmatilah karena ia akan menjadi milikmu apa adanya dan hanya saat ini saja. Sedang besok bisa jadi semua telah berganti.
Jika hari ini engkau menderita, maka nikmatilah, karena ini pun akan berlalu, jangan biarkan dia pergi, kemudian ketika kau harus lebih menderita suatu saat nanti, engkau tidak sanggup menahannya.
 
Maka nikmatilah rasa sedihmudengan mengenang kesedihan yang lebih dalam yang pernah kau alami. Dengan membayangkan kesedihan yang lebih memar pada hari akhir nanti jika kau tak dapat melewati kesedihan kali ini.

Dengan menemukan penghapus dosa pada musibah yang kau alami kiniMaka nikmatilah rasa galaumu, dengan betafakkur lebih banyak atas permasalahan yang kau hadapi.Dengan memikirkan kedewasaan yang kan kau gapai atas resah dan galau itu. Dengan kematangan yang akan kau miliki setelah berhasil melewati semua ini.
 
Maka nikmatilah rasa marahmudengan kemampuan mengendalikan diri. Dengan memikirkan penggugur dosa yang kan kau dapatkan. Dengan mendapatkan kemenangan atas diri pribadi yang tak semua orang dapat lakukan.
Maka nikmatilahdengan berpikir positif atas apa pun yang kau jalani, atas apapun yang kau hadapai, atas apapun yang kau terima, karena dengan begitu engkau akan bahagia.
 
Maka nikmatilahkarena ini pun akan berlalu jua.
Maka nikmatilahkarena rasa puas dan syukur atas apa yang telah kita raih akan menghadirkan ketenteraman dan kebahagiaanSedang ketidakpuasan hanya akan melahirkan penderitaan.
 
Maka nikmatilah, karena ini pun akan berlalu. Maka nikmatilah, agar engkau tidak kehilangan hikmah dan keindahannyasaat segalanya telah tiada.
Maka nikmatilahagar tak hanya derita yang tersisa saat semua telah berakhir jua.


07 Februari 2011

Buah Kesabaran Dan Kesedihan

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengaduh dan mengaduh pada ibunya, sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.
“Anakku…,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata.
“Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun sehingga ibu tak bisa menolongmu. Aku tahu anakku, itu sakit sekali, tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu, jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu, karena hanya itu yang bisa kau perbuat,” kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasehat bundanya, memang ada hasilnya. Tetapi rasa sakit bukan kepalang, kadang di tengah kesakitannya, ia ragukan nasehat ibunya. Dengan air mata ia bertahan bertahun-tahun lamanya.

Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya, makin lama makin halus, rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar, rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Hingga akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.

Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini sebagai hasil derita bertahun-tahun lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang Cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Cerita ini adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa “kerang biasa” menjadi “kerang luar biasa”. Bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah “orang biasa” menjadi orang luar biasa”. Jadi, jika anda sedang menderita hari ini, apa pun sebabnya, bersiap-siaplah menjadi “orang luar biasa”. 

Written by Dr. H. K. Suheimi